Mari berbicara sedikit mengenai aspek fundamental USD/IDR. Kalau ada satu hal yang saya yakin mengenai mata uang, yaitu bahwa saya yakin kalau tidak ada teknik valuasi mata uang. Kita tidak tahu nilai ‘intrinsik’ mata uang. Apakah suatu mata uang itu ‘mahal atau murah?’ Tidak ada yang tahu. Saya tahu bank-bank mempunyai model-model kompleks yang diluar akal budi awam untuk mengestimasi ‘nilai wajar’ mata uang suatu negara relatif terhadap mata uang negara lain..tapi teori di balik modelnya jauh dari mencapai konsensus. Apakah rupiah saat ini murah untuk orang AS? Sekarang orang AS bisa menukar dollar untuk rupiah yang lebih banyak dibanding tahun lalu..tapi kenaikan harga barang-barang kita juga lebih tinggi dibanding mereka.
Walau tidak ada teknik yang bisa mengukur nilai wajar suatu mata uang, tapi pemikiran sederhana kalau mata uang bergerak karena uang-uang investor lari dan masuk ke dalam negeri cukup membantu. Setidaknya untuk kasus ini. Indonesia sudah terkenal di mata investor asing dengan defisit gandanya: defisit perdagangan dan defisit fiskal. Asal mula fokus investor ke dua angka ini bermula dari krisis 1998. Setelah terkena krismon, pemerintah memasang janji untuk tidak melanggar defisit lebih dari 3% PDB. Isu ekonomi menjadi isu politik. Semenjak itu pula, negara-negara Asia yang terkena krisis 1998 menjadi fanatik dalam mengumpulkan devisa. Devisa bertambah kalau negara bisa mendapat surplus perdagangan: ekspor lebih besar dari impor (tanpa mempedulikan ‘hot money’). Cadangan devisa bisa digunakan untuk membayar utang luar negeri dan juga bisa digunakan untuk intervensi di pasar mata uang. Kalau devisa banyak, utang luar negeri bisa dibayar tanpa negara menambah utang baru yang berarti ada keamanan di sisi fiskal. Kalau devisa banyak, bank sentral bisa menekan kenaikan dollar sehingga utang luar negeri yang harus dibayar dengan dollar menjadi tidak mahal...yang berarti keamanan di sisi fiskal lagi.
Hubungan devisa dengan defisit fiskal inilah yang menjadikan devisa sebagai isu politik. Apa yang terjadi kalau batas 3% dilewati? Bisa saja presiden tidak diganti, tapi investor asing (dan lokal) memiliki ketakutan yang wajar kalau itu terjadi. Isu kalau jangan-jangan Indonesia bisa gagal bayar (default) juga berakar di hubungan devisa dengan defisit fiskal. Indonesia memiliki devisa yang tidak cukup untuk membayar utang asing. Lalu bagaimana membayarnya? Kalau pendapataan dari pajak tidak cukup, negara perlu bikin utang baru lagi...yang mengantar ke defisit fiskal lebih dalam (kecuali minta utang ajaib kepada IMF..tapi saya ragu bangsa kita akan menyambut ramah donor dari IMF lagi)....kecuali...kalau Indonesia mendeklarasi gagal bayar. Gagal bayar bisa berarti sekedar menunda pembayaran, tapi konsekuensinya akan tetap ada (umumnya, asing tidak mau memberi pinjaman selama 2-3 tahun).
Di bawah ini adalah grafik penting dari analisa geopolitik yang saya ikuti. Apa kesamaan dari Turkey, Argentina, dan Indonesia? Mata uang mereka relatif terhadap USD mengalami pelemahan drastis. Cadangan devisa mereka tidak mampu menutupi utang dalam USD. Negara-negara tersebut tidak bisa dibilang aman secara politik. Turkey biasa mendengar kata coup. Protes di Argentina sudah seperti rutinitas. Indonesia memiliki aturan limit defisit fiskal di tengah arena politik yang sering memanfaatkan isu SARA. Mungkin kenaikan Fed rate adalah trigger awal yang kemudian membuka mata investor terhadap kelemahan devisa kita.
Saya tidak memiliki model canggih yang dimiliki bank untuk meneropong mata uang, tapi saya pikir saya mempunyai sesuatu yang lebih baik. Metode ini telah menemani saya di hutan forex dan saham. Through thick and thin: Elliott Wave dan Fibonacci Analysis.
Berhubung ini adalah mata uang negara kita, saya menggunakan wave count konservatif di dalam analisa Elliott Wave. Dalam wave count konservatif ini, USD/IDR sedang menyelesaikan leg-up terakhir dalam struktur besar zig-zag (label A-B-C). Wave C dalam zig-zag memiliki struktur impulsif yang dihitung 1-2-3-4-5. Saat ini, kita sedang dalam proses wave 5, yang ketika berakhir akan menyelesaikan wave C di struktur besar. Selanjutnya, setelah wave C selesai, USD/IDR akan mengalami koreksi besar kembali dan Indonesia bisa bernafas lega kembali. Note juga panah di chart. RSI saat ini menyentuh moving average. Ini adalah salah satu signal potent RSI yang memberi peringatan kalau kenaikan harga yang kuat ada di depan mata.
Sejauh mana
USD/IDR akan naik? Chart di bawah memberikan jawaban saya. Fibonacci confluence
zone ada di level 15.226 dan 16.710 (lihat garis horizontal). Dalam beberapa
minggu ke depan, USD/IDR kemungkinan besar baru akan mengalami koreksi yang
notable setelah mencapai 15.226. Jadi, expect kenaikan dollar terjadi secara
persisten hingga mencapai 15.226. Tapi setelah itu, dugaan saya, USD/IDR baru
hanya akan menyelesaikan kenaikannya ketika menyentuh 16.710, level di mana
saya expect wave C berakhir.
Analisa semacam
ini tentu kelihatan seperti tidak menggubris upaya intervesi bank sentral. Itu
betul. Elliott Wave dan Fibonacci analysis berada di spektrum analisa dimana
kita melihat bahwa tidak banyak yang bisa dikendalikan oleh manusia.
Comments
Post a Comment